Rabu, 20 Juli 2011

Mahasiswa Wera mataram dalam cerita

diskusi kecil2lan

Dulu kami mahasiswa wera yang di kota mataram ini sukup banyak, hampir semua desa yang ada di kec. Wera terwakilkan pelajarnya yang datang menuntut ilmu di Mataram, bahkan sebelum kami datang pun pelajar mahasiswa wera sudah sangat familier di kota ini, bahka senior-senior kami sekarang ini masih banyak yang sudah menjadi warga kota Mataram, sudah memiliki keluarga dan bekerja tetap disini, yaa boleh dikatakan sudah menjadi warga tetap Kota Mataram.
Dulu kami banyak yang numpang hidup dengan keluarga/orang tua wera yang ada di Mataram, (yaa itung pengiritan lah), tapi ada juga yang ngekos, baik sendiri-sendiri atau pun ber sama-sama, yang sendiri ya yang mampu secara finansial tapi yang bersama-sama, keuangannya sangat terbatas, makan minum ya apa adanya lah,,, kadang makan pakai ikan,  sayur dengan tempe tahu, atau pake asam dengan garam, bahkan makan hanya satu kali dalam sehari pun sangat biasa kami lakukan, pergi ke campus dengan, cidomo bahkan jalan kaki pun oke, yang pokok menuntut ilmu harus didahulukan dibandingkan dengan yang lainnya. Perasaan malu harus disingkirkan demi mendapatkan ILMU PENGETAHUAN….
sertijab peng.HPMW
Untuk mendapatkan bekal ilmu kami harus bersusah payah dulu, untuk urusan kuliah harus nomor satu, kami saling bahu membahu, saling membantu sesama,,, karena uang yang dikirimkan oleh orang tua kami kadang ada kadang tidak,,,, lebih sering tidak nya sih… bagi kami orang wera untuk mendapatkal ilmu untuk bekal suatu kewajiban,,, orang tua kami selalu mendoktrin kami “nak’’,, kamu harus lebih baik dari kami”, “kamu harus mendapatkan ilmu yang banyak”, “carilah ilmu kemana pun tempatnya”,,, jadi doktrin ini terus melekat pada diri kami,,, kami menanamkan prinsip “ orang lain bisa kenapa kita tidak ”,,,
Allah SWT mencintai orang yang berlmu dan beramal saleh,,, tuntutlah ilmu samapi ke liang lahat,,,, Allah akan meninggikan derajat orang beriman dan berilmu beberapa derajat,,, ini juga menjadi cambuk bagi kami dalam menuntut ilmu,
power fc/futsal
Urusan minat dan bakat kami mahasiswa wera tidak kalah dengan mahasiswa lainnya, dibidang kesenian kami memiliki group kasidah, hadra, band, paduan suara, dibidang olah raga juga oke ada silat, sepak bola, bola voly. Bidang kesenian beberapa kali bendapat penghargaan baik dari wali kota Mataram maupun dari yang lainnya, untuk voly beberapa kali mendapat juara IMBI sport, GAKADA cup dll, sepak bola pernah menjuarai kejuaraan di kabupaten Lombok barat, futsal juga ngga mau kalah dalam berprestasi, 1 piala yang dipersembahkan oleh tiem ini
Memang tujuan utama kami sebagai mahasiswa adalah untuk menuntut ilmu untuk dapat dipetik hasilnya. Tapi,,, , tidak semua ilmu bisa kita dapatkan di bangku kuliah saja. Ada beberapa ilmu yang harus kita gali dan cari sendiri diluar kegiatan akademik, dari mulai mengasah softskill sampai dengan belajar untuk bermasyarakat yang lebih baik. Softskill sendiri dapat kita asah dengan melakukan beberapa kegiatan baik didalam lingkup Universitas, seperti mengikuti berbagai oraganisasi atau kepanitiaan, maupun diluar Universitas yang contohnya adalah seperti mencoba organisasi kemasarakatan, parpol , berwirausaha dll.
cari inspirasi
Kami dalam mencari yang diluar akademik, dengan bersusah payah mengikuti beberapa organisasi kemasyarakat, ada IMM, HMI, KAMMI, ada juga sih yang organsiasi kekirian (kata orang sihhhh), ada juga organsasi peguyuban. Organisasi peguyuban ini kami hampir semua ada disetiap komunitas desa, ada IRNAMA Nunggi, IRHAM Hidirasa, PERMATA Tawali, komunitas mahasiswa wora dll. 
pelantikan pengurus

Untuk HPMW Mataram menjadi perjuang tersendiri bagi kami mahasiswa wera dalam mewujudkannya,,,, beberapa bulan kami mahasiswa wera secara intens membicarakannya, beberapa kali terjadi kebuntuan yang membuat kami susah tidur (ncoki maru arie),  sekita tahun 1994/1995 terwujudlah organisasi yang kami impikan, untuk mengumpulkan mahasiswa pelajar wera dalam satu wadah, organisasi itu bernama HPMW (himpunan pelajar mahasiwa wera) Mataram   
    
lg dengari arahan
Diskusi di pantai kerandangan
 
Melakukan diskusi-diskusi kelompok, latihan debat antar teman merupakan kegiatan rutin yang kami lakukan, kadang kami harus berjalan kaki ke tempat-tempat yang jauh demi untuk diskusi dengan kawan-kawan, tak jarang ketika pulang kami sangat kelelahan, kadang ke pantai kadang pula ke pegunungan, terobosan demi terobosan kami lakukan demi menempa mental, mengasah otak, kemampuan kami. (bersambung)
oleh hasbi assidiqi/2011












TENUN MBOJO




muna tembe

rimpu

Dana Mbojo merupakan suatu daerah akan kekayaan budaya dan ada istiadat. Di mana dulu orang Bima mengenal tenunan sejak berdirinya Negara Islam di Bima pada 15 Rabiul awal 1050 H.Merupakan awal pertama kali masyarakat mbojo mengenal pembuatan tenunan biasa mereka menyebut “tembe”.dimana tujuan utama pembuatan tembe tersebut sebagai pakaian yang menutup auratnya serta sebagai motivasi peradaban keagamaan mereka pada zaman dulu. dimana tembe ini dikenal beberapa jenis yaitu tembe nggoli,tembe songke (sarung songket), tembe kafa naé,tembe meé (sarung hita).Tenunan ini merupakan salah satu hasil kerajinan khas daerah Mbojo Kabupaten Bima yang dikenal dibeberpa daerah.mengapa dikatakan tenunan tradisonal,karena pada setiap bahan pembuatan tersebut berasal dari ala-alat tradisional itu sendiri.salah satuh contoh alatnya itu seperti tampe, tandi,kuú,poro,cau, lihu,lira lili, dan lain-lain. pekerjaan tenunan ini dilakukan oleh kaum perempuan,remaja, dan ibu-ibu yang berada di daerah kabupaten bima, hampir disuluruh kecamatan di Kabupaten Bima kaum perempuan ,remaja dan ibu-ibu membuat kerjinan tenunan tembe khususya, didaerah kecamatan sape yang dikenal banyak warga pekerjaan tenunan, hampir disetiap rumah pekerjaaan tenunan itu memiliki beberapa unit peralatan tenun. selain diproduksi dikabupaten bima, tenunan ini dilakukan oleh setiap daerah yang ada di NTB, baik di Dompu,Sumbawa ,Lombok dan maupun provinsi lainya yang ada di Indonesia.         

Jenis dan fungsi tenunan Mbojo            

    Dimana jeniss dan fungsi tenunan Mbojo memilik banyak variasi ,dengan berbagai macam variasi dan corak motif tersendiri sangat digemari oleh masyarakat Bima . Tenunan Mbojo ini juga memiliki keistimewa tersendiri bagi masyarakat Mbojo. Jenis dan fungsi tenunan Mbojo dapat dibagi menjadi empat macam yaitu :
1. Tembe – Kain Sarung

Selasa, 12 Juli 2011

Makna ungkapan dibalik ucapan “Terima kasih” dalam bahasa Bima

oleh Udin Sape Bima pada 11 Juli 2011 jam 18:05
Sudah lama sebenenarnya saya memiliki rasa ingin tahu,apa sih sebenanrnya arti dari ucapan “Terima kasih“yang  sering dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari oleh dana Mbojo “Tanah Bima” (TB) selama ini. Menurut saya bahwa ucapan terima kasih ini bukanlah bahasa Bima,akan tetapi bahasa pemersatu atau bahasa universal yang berarti bahasa Indonesia.Tapi biasannya, ucapan terima kasih ini mereka mendapatkan sesuatu pembarian atau penghargaan terhadap orang lain.  Ini sepengetahuan saya tentang ucapan tersebut.      


Asal mula ditemukannya arti ucapan terima kasih dalam bahasa Bima 
Pada hari sabtu 9 Juli 2011 kemari,saya sempat berkomunikasih dengan Pak Rano M.Tahir lewat  via telophon. Pak Rano M.Tahir merupakan salah satu karyawan swasta yang berada di daerah Jakarta Barat (Jabar). Konon ternyata disitu Pak Rano M.Tahir memberikan sebuah pertanyaan terhadap saya,numun pertanyaan itu mengambil perhatian yang sangat bagus untuk diperbincangkan. Pertanyaan itu sesuai dengan apa yang saya ingin tahu selama bertahun-tahun. Pertanyaan itu berbunyi,  Udin, Ausi nggahi Mbojo terima kasih ? yang artinya “ Apa bahasa Bima terima kasih” saya pun langsung bingung mendengar pertanyaan tersebut. Mau jawab, tapi tidak tahu,,,hehe.....hingga pada akhirnya Pak  Rano Mtahir memberi tahukan jawaban. Ternyata artinya “Ncewi mbeim adem” . saya pun langsung terdiam. Pembicaraan kamipun semakin seruh.        

Setelah mendengar jawaban tadi,sayapun kembali bertanya kepada Pak  Rano M.Tahir. Siapakah yang pertama kali mengartikan ucapan “Terima kasih” tersebut ?,mendengar pertanyaan itu Pak Rano M.Tahir pun  menjelaskan semuanya. Dan inilah penjelasan dari Pak Rano M.Tahir : “ sebenarnya : yang pertama kali yang mengartikan ucapan terima kasih adalah Pak Ahmad Saiful yang berasal dari Kecamatan Wera. Saya  mengenal Pak Ahmad Saiful, dulu kami bertemu di PT Pangan Lestari di Daerah Jakarta Utara Pada tahun 2001.  Namun disisih lain Pak Ahmad Saiful mencertikan sedikit tentang perjalanannya dari Kecamatan Wera menuju ke Pulau Jawa sekitar 60 an yang lalu. Perjalan yang sangat jauh itu,ternyata Pak Ahmad Saiful menggunakan sebuah Perahu yang terbuat dari kayu cukup sederhana. Tujuan Pak Ahmad Saiful ke Pulau Jawa, hanya mencari Harta karung peninggaln Bung Karno. Saya pun sedikit tersenyum mendengar pembicaraan Pak Ahmad Saiful. Setelah selesai menceritakan riwayat perjalan tersebut Pak Ahmad Saiful sedikit  menanyakan kepada saya bahasa apa saja yang kamu bisa kuasai Mas Rano ? Saya pun menjawab,,,,” Tidak terlalu banyak Pak Saiful,cuman satu !! he he ( dengan wajah yang penuh dengan kesenyuman). Lalu Pak Ahmad Saiful kembali bertanya. Bahasa apa itu ???????? dan kedua kalinya saya menjawab bahasa Mbojo / bahasa Bima (BM/BD) ....he he ...Wajah Pak Ahmad Saiful pun sedikit murung mendengar jawaban saya.


Konon, tidak lama kemudian Pak Ahmad Saiful memberikan sebuah pertanyaan seperti apa yang saya sampaikan ke saudarah Udin yaitu arti ucapan “Terima kasih” dalam bahasa Bima. Dan saya menjawab ya terima kasih. Pak Saiful kembali menegaskan bahwa jawaban yang saya sampaikan salah. Jawaban yang betul “ Ncewi mbeim adem”. Dengan melanjutkan pembicaraan yang cukup tegas. Pak Ahmad Saiful kembali berkata,memang ucapan seperti ini tidak pernah kita dengarkan didalam kehidupan orang Mbojo. Kalaupun ada hanya pribadi sendiri. Tidak lebih dari itu. Yang sering dibicarakan adalah  ucapan “Terima kasih “.          

Pada paragraf ke-2,3, sudah terilihat jelas arti ucapan “Terima kasih “ dalam bahasa Bima yang selama ini jarang dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari. Disini penulis mencoba dan mengembangkan bahasa tersebut. Sehingga dou Mbojo / orang Bima tidak melalaikan  begitu saja. sebelum penulis melanjutkan pembahasan dibawahnya. Penulis mengahanturkan mohon maaf sedalam dalamnya jika ada kata yang kurang berkenang dihati Anda semua sebagai pembaca. Oke.          

” Teori pembahasan ucapan terima kasih “Ncewi mbeim adem"  dalam bahasa Bima

Dalam keterampilan berbicara.kita sering kali berkomunikasih dalam kehidupan sehari-hari biasanya oleh penggunaan bahasa tidak terlepas dari situasi bahasa. maksudnya disini menjelaskan bahwa perkataan yang kita ucapkan harus dapat menyampaikan gagasan yang kita ungkapkan,menurut Usman D.Ganggang yang dukutip didalam buku yang berjudul Pendidikan Bahasa Indonesia Tarigan pada tahun (1992 : 551). Dalam pengetahuan kebahasaan kita sering mendengar istilah mendengar dan menyimak. Maksudnya disini oleh Tarigan mendengar adalah merupakan proses kegitan menerima bunyi-bunyi yang dilakukan tanpa sengaja atau secara kebutulan saja. Sedangkan menyimak adalah suatu proses kegiatan menyimak lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian,pemahaman,aperasiasi, serta interprestasi untuk memperoleh informasih, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasih yang telah disampaikan oleh sang pembicara melalui ujaran bahasa lisan. ( HG. Tarigan :28)   

Kemudian Tarigan menjelsakan bahwa didalam memahami penggunaan bahasa tidak terlepas dari pemakaian kata seperti : Idiom, Pribahasa, atau Majas. Kata lain dari idiom biasa disebut ungkapan. Menurut Harirmurti Kridalaksana (1980 ) yang dikutip Tarigan, menjelaskan bahwa :
1.      Idiom adalah konstruksi unsur-unsur yang saling memilih, masing-masing anggota mempunyai makna yang ada hanya kebersamaan lain.
2.      Idiom adalah konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna anggota badanya.

Berbicara kata ungkapan (idiom) dalam bahasa Indonesia juga yang berarti sebuah perasaan yang dituangkan entah lewat lisan secara langsung ataupun melalui tulisan yang memiliki makna yang berbeda.Entah itu marah,sedih,bahagia,benci,semuanya terikat dalam sebuah kata yang disebut UNGKAPAN. Sementara makna HATI (kalbu) memiliki arti yang luas karena hati sangat berkaitan erat dengan cinta.hati akan bahagia jika dipenuhi cinta kasih.tapi,banyak cinta tanpa hati seolah tiada guna karena “CINTA ITU TERTANAM DIHATI”

Dalam berbicara Ungkapan ( idiom ) diatas terdapat juga didalam bahasa Bima, dimana ungkapan yang sejalan dengan hal tersebut,biasannya orang Bima mengungkapkan dengan kata “ Ncewi mbeim adem “ yang berarti “ Terima kasih ”. Namun ungkapan itu menujukan suatu kepedulian dan kebersamaan. Ungkapan “Ncewi mbeim adem” biasanya orang Bima, membicarakan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti contoh halnya seorang Ibu memberikan uang kepada anak kecil,dengan rasa senang hati anak itu mengucapkan kata “Ncewi mbeim adem”.

Konon,ungkapan “ Ncewi mbeim adem “,ternyata di berbagai daerah lain memiliki masing-masing bahasa tersendiri yang sopan dan halus. Seperti di daerah LOMBOK “Ncewi mbeim adem“ diartikan sebagai “ Matur tampiasih”,dan sedangkan Bahasa Jawa (JB) yang berarti “Matur suwun..”. Maupun didaerah lainya.

Kemudian,ungkapan “ Ncewi mbeim adem “, kalau kita mendengar,menyimak serta mencermati dengan baik,ungkapan hal semacam ini di Bima sangat akrab sekali dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari“ ntuwu de nuntu kai “.

Dengan demikian, uraian singkat diatas penulis bertujuan untuk memberikan pemahan dan arahan bagaimana kita berbicara bahasa Bima dengan baik dan benar.

  1. Mendefinisikan ucapan terima kasih “ Ncewi mbeim adem ”      
Ucapan terima kasih “Ncewi mbeim adem” dalam bahasa Bima,merupakah  salah satu pola struktur  bahasa yang sangat santun sehingga melahirkan rasa syukur atau membalas budi setelah menerima kebaikan. Dimana apresiasi bahasa “Ncewi Mbeim Adem”  sebagai tanda rasa syukur kita kepada yang maha kuasa yang menciptakan seluruh alam semesta yang telah memberikan rahmat,karunia dan kenikamatan kepada kita. Oleh karena itu berbicara “Ncewi mbeim adem” mencerminkan rasa kepudulian kita terhadap sesama dan dapat mewujudkan suatu pandangan hidup yang mampu memberikan kontrubsi dalam berkomunikasih atau guna menggambarkan kita menjadi seseorang yang bisa bertanggung jawab terhadap orang lain.  Ucapan terima kasih “Ncewi mbei adem” dapat melahirkan suatu hubungan sosial. sehingga melahrikan kekuatan yang sangat bathin. Baik didalam keluarga maupun lingkungan masyarakat sekitar.

  1. Makna ungkapan  dibalik ucapan terima kasih “Ncewi mbeim adem”         
    Dari hasil penelitian yang sangat sederhana,dimana makna dan arti dibalik ucapan terima kasih “Necwi mbeim adem” memiliki beberapa makna yang terkandung didalamnya. Adapun makna yang terkandung didalamnya itu :
    1. Ungkapan “Ncewi mbeim adem” bermakna : saling mengingatkan. Ketika kita ditugaskan oleh atasan untuk bekerja diluar daerah.tidak terlepas orang yang selalu ada disamping kita selalu mengingatkan untuk berhati-hati dan sukses selalu. Dan kita selalu menanggapinya dengan menggunakan ungkapan “Ncewi mbeim adem” atas doannya”. Atau ketika kita sedang membawa motor. dan orang dekat kita selalu menyampaikan jangan terlalu terburu-buru membawa motor,pelan-pelan saja, nanti bisa tabrakan dijalan. Dan kitapun tidak terlepas mengucapkan Ncewi mbeim adem. Dalam nggahi Mbojo : “ Ncewi mebeim adem, io mada ma rai kanari-nari pa,ngungku rongga aka ra lao kai”. Yang berarti “Iya saya jalan pelan-pelan saja,supaya sampai tempat tujuan.
    2. Ungkapan “Ncewi mbeim adem”,bermakna : Bersabar. Dalam menjalanin sebuah kehidupan berumah tangga,kita selalu mendapatkan musibah. Atau ketika dalam menjalankan sebuah perusahaan mengalami bangkrut yang sangat besar. Namun,orang dekat kita tidak terlepas dengan ungkapan  bersabarlah,setiap manusia ciptaan Allah pasti ada cobaannya. Dan insaAllah dibalik ini pasti ada hikmahnya. Dengan rasa syukur kita selalu menyampaikan “Ncewi mbeim adem”. Dalam nggahi Mbojo : “Ncewi mbeim adem,kana’e pa kelemboade mori dei dunia,wara to’’i pa ru’u ma taho ”. Yang berarti “ berbanyaklah bersabar hidup didunia, semoga ada hikmahnya.
    3. Ungkapan “Ncewi mbeim adem”,bermakna : hadiah atau pemberian. Seorang anak mengikuti pelombaan Mengarang nasional mendapatkan juara 1. Panitian memberikan sebuah penghargaan. Dengan rasa senang hati dia tidak lupa mengucapkan “Ncewi mbeim adem”.
       Nggahi Mbojo : “Ncewi mbeim adem,tanao ka poda ade wali “. “Belajar yang lebih giat lagi”.
    4. Ungkapan “Ncewi Mbeim Adem”,bermakna : mohon maaf. Didalam suatu pekerjaan perusahaan diperintahkan oleh atasan kita membuat sebuah laporan,namun terjadi kesalaha pahaman pada bagian lampiran suratnya,dan sering kali mengucapkan permohonan maaf sedalam - dalamnya.kata orang bijak. Selain itu tidak terlepas pula mengucapkan “Ncewi mbeim adem”. Dalam nggahi Mbojo : “Ncewi mbeim adem,labo mboto – mboto kangampu ta , mada wara satoí ncara tunti dei sura. “ Terima kasih dan banyak maaf, saya ada sedikit kesalahan menulis didalam surat”.
    5. Ungkapan “Ncewi mbeim adem”,bermakna : malu dan takut. Misalnya dalam kehidupan sehari-sahari. Tetangga sebelah rumah sering memberikan kita sambako. Dan kita merasa malu dan takut. Namun, orang itupun memberinya penuh dengan keikhlasan hatinya dan berkata jangan sungkan sungkan terimalah,kita harus saling membantu dan menolong sesama. Dan kita tidak lupa mengucapkan “Ncewi mbeim adem” atas pembriannya semoga amal ibadah diterima disisih Allah SWT.. Dalam nggahi Mbojo : “Ncewi mbeim adem, bongi la mbei ta dei mada.” Yang berarti “ terima kasih banyak atas beras/sambako yang dikasih kepada saya”.
Diatas telah digambarkan beberapa makna dari ucapan terima kasih “Ncewi mbeim adem” yang memberikan suatu gambar bagaimana kita menghargai orang telah baik terhadap kita.

Berbicara makna ucapan terima kasih”Ncewi mbeim adem” dalam bahasa Bima sangatlah bagus untuk perkembangan bahasa,.baik dalam Bahasa Melayu (BM),Bahasa Daerah (BD), dan Bahasa Indonesia (BI). jadi, untuk orang Bima mulai mengangkat berbagai kata untuk mewujudkan dan mengembangkan bahwa kita mampun menjadikan salah instruksionalitas dalam berbahasa. Dan ini tugas kita bersama untuk mengembangkannya. Ayooooooo sahabat,,,maju trusssssss dan kejarrrr lah cita-cita muuuuuuuuuuuuu......

PENULIS : Udin Sape Bima ,12 Juli 2011...Bertempat Jln. Majapahit 62 Kekalek Pelor Mas 2 No. 29

Rabu, 25 Mei 2011

sekilas tentang Wera

Sekilat tentang Wera

Kecamatan Wera merupakan bagian dari Kabupaten Bima yang terletak  pesisir utara paling timur dari Kabupaten Bima, Wera memiliki hamparan pantai yang cukup panjang dari ujung barat perbatasan dengan Kecamatan Ambalawi (pemekaran dari Kecamatan Wera) dan sebelah timur besebelahan dengan Kecamatan Sape, disamping itu Kecamatan Wera adalah daerah pegunungan yang biasa digunakan untuk berladang.
Masyarakat Wera yang masih memegang teguh nilai-nilai keagamaan yang mereka anut, adat istiadat masih kental, kekeluargaan masih sangat kuat, saling tolong menolong antara masyarakat. Masyarakat Wera mayoritas bekerja dibidang pertanian, bidang ini yang paling dominan adalah menanam padi, palawija dll, akan tetapi akhir-akhir ini fenomena bawang merah menjadi promadona baru pertanian masyarakat Wera,beberapa desa yang memiliki lahan pertanian, Desa Ntoke, Bala, Nunggi, Tawali, Wora, Hidirasa, Nanga Wera, Tadewa Oi Tui, Pai. Peternakan merupakan bidang kedua terbanyak pekerjaan yang dilakoni masyarakat Wera karena daerah ini memiliki lahan untuk peternakan cukup memadai, banyak  lahan yang belum dipergunakan untuk yang lain digunakan untuk lahan peternakan, ternak yang biasa dipelihara adalah, sapi, kerbau, kambing dan kuda, lahan peternakan berada di desa Oi Tui dan Payi. Nelayan juga menjadi bidang pekerjaan yang banyak digeluti oleh masyarakat Wera, dengan luas wilayah lautan yang dimiliki oleh Kecamatan Wera memiliki potensi yang cukup bagus namun masyarak dikecamatan Wera belum mampu mengelola dengan manajemen yang baik, sehingga potensi yang dimiliki ini belum mengangkan penghasilan masyarakat, potensi ini dimiliki oleh Desa Nanga Wera, Sangiang, Tadewa, Oi Tui dan Payi. Ada juga yang bekerja dibidang perniagaan, beberapa daerah yang paling dominan dibidang ini berada di Desa Tawali, Sangiang dan Nanga Wera. Birokrasi (PNS, Honda, PTT,GTT dll), juga memiliki tempat dihati masyarakat Wera dengan banyakanya potesnsi anak-anak muda yang telah menyelesaikan pendidikan dijenjang Sarjana, ini merata diseluruh masayarakat Wera.
Tingkat pendidikan masyarakat Wera masih dibawah kecamatan lain di Kabupaten Bima, dilihat dari tingkat kemampuan baca tulis, kesehatan dan kesejahtera masyarakat, akan tetapi pada akhir-akhir ini keinginan masyarakat Wera untuk maju cukup tinggi, dengan melihat fenomena terus meningkatnya kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya, terlihat dari tingginya jumlah tamatan SMA yang melanjutkan ketingkat yang lebih tinggi. Beberapa desa yang mencetak sarjana  yaitu Desa Nunggi, Hidirasa, Wora. Menurut Mulyati (Solud) 2011, Desa Nunggi merupakan pencetak sarjana tertinggi di Kecamatan Wera. Daerah yang menjadi tujuan untuk menuntut ilmu adalah Kota Bima, Mataram, Makasar dan Jawa.
Potensi besarnya adalah jumlah sarjananya yang sangat-sangat banyak sekali dan begitu juga jumlah orang wera yang menjadi karyawan baprik di kota-kota besar jumlahnya sangat fantastik, kalau ini diolah dengan maksimal maka wera akan luar biasa karena sumber daya manusia yang potensial inilah yang bisa mengelola potensi SDA yang melimpah rua itu (elnino)
wera memiliki potensi yang luar biasa itu dapat di liat dari berbagai bidang pertanaian wera merupakan penghasil bawang merah dan kacang tanah dari bidang peternakan Wera salah satu kecamatan yang memiliki populasi ternak sapi 9068 kerbau 3978 kuda 391 kambing 4841 merupakan populasi yang banyak dari kec lainya dan merupakan penyungbang terbesar pendapatan asli dearah terbanyak dari sektor peternakan dari potensi parawisata menekjubkan lagi ada pulau ular , goa wera . oi caba ,gunung sangiang dan merupakn laut ter indah di kab Bima (mustang)

Beberapa potensi yang dimiliki oleh Wera
I.          Pertanian :
1.      Bawang Merah
Bawang merah merupakan komoditi utama yang memegang peranan penting dalam ekonomi masyarakat Wera.

Bawang merah di usahakan baik di lahan kering maupun pada lahan sawah tadah hujan setelah padi.  Pada sebagian daerah sentra produksi bawang merah seperti di Desa Tawali, Nunggi, Hidirasa, dan Oi Tui. Penanaman bawang merah pada lahan sawah tadah hujan dimulai April  yang berlangsung  1-2 kali tanam selama musim kering. Untuk mengairi tanaman pada MK.I petani  menggunakan sisa air irigasi dan untuk mengatasi kekurangan air petani mengambil air dari sumur bor atau sumur gali yang dibuat disekitar lahan  atau mengambil air dari kali dengan menggunakan pompa air. Penghasilan dari bawang merah ini telah mengangkat penghasilan masyarakat wera. (zairin)

2.      Kacang Tanah

Dari beberapa penelitian yang dilakukan, Kecamatan Wera memiliki potensi yang cukup bagus untuk dikembangkan nanaman kacang tanah sesuai dengan protetipe tanah yang ada. Masyarakat Wera telah lama mengenal dan menanam kacang tanah untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka disamping padi.
Dari beberapa daerah yang diletiti oleh BPTP bahwa kecamatan Wera memenuhi unsure untuk mengembangkan kacang tanah, potensi ini perlu dikembangkan dengan teknologi tepat guna. Beberapa desa potensial untuk kacang tanah, Desa Wora, Nanga Wera, Hidirasa dll.


II.       Peternakan
1.      Sapi
(kalo payi)
payi kalo
Beternak sapi Bali di Kecamatan Wera sudah berlangsung lama, tahun 1970 an awal mula Sapi Bali di bagi oleh pemerintah untuk diternak dengan system bagi hasil dan bergulir pada masyarakat lainnya. Sekarang masyarakat Wera sudah memiliki sapi yang cukup banyak dan sangat membantu perekonomian masyarakat.  Karena harga sapi-sapi Wera mampu bersaing ditingkat kabupaten samapi tingkat nasional, Ternak Sapi berada di Desa Payi, Oi Tui, Sangiang dll

2.      Kerbau
(kalo payi)
 
Beternak kerbau merupakan anadalan masyarakat Wera sejak turun temurun, dalam beberapa cerita masyarakat Bima bahwa kerbau Wera memiliki badan yang besar dan tanduk yang cukup panjang, tidak ada yang bisa mengalahkan panjangnya tanduk kerbau wera, dulu kerbau menjadi alat untuk membajak pertanian bagi masyarakat wera sehingga kerbau merupakan ternak yang sangat penting bagi masyarakat, namun sekarang kerbau tidak lagi menjadi alat untuk membajak pertanian dan telah beralih ke mesin. Harga kerbau-kerbau wera cukup tinggi karena berat kerbau wera cukup tinggi sehingga mampu bersaing ditingkat kabupaten samapi tingkat nasional, Ternak kerbau berada di Desa Payi, Oi Tui, Sangiang dll
3.      Kuda
kalo payi
Kuda Wera memiliki cerita yang unik di kerajaan Mbojo, dimana kemampuan kuda wera dalam menjelajahi wilayah kerajaan Mbojo cukup kuat, kuda ini orang kerajaan menyebutnya LA WERE, disamping cerita itu kuda-kuda wera mampu menguasai pacuan kuda yang dilakukan di kabupaten Bima sebelum masuknya kuda-kuda luar, kuda-kuda Wera kecil tapi kuat. Beberapa masyarakat memelihara kuda disamping untuk pacuan digunakan untuk alat transportasi, sehingga kuda sangat penting keberadaanya. Harga kuda-kuda wera mampu bersaing dengan kuda-kuda didaerah lain. Ternak kuda berada di Desa Payi, Oi Tui, Sangiang dll

4.      Kambing
Beternak kambing di Kecamatan Wera sudah menjadi tradisi yang cukup memasyarakat, karena sebagian besar masyarakat Wera memiliki kambing walaupun tidak banyak, beternak kambing tidak terlalu sulit dan cepat berkembang, potensi ini belum dilakukan dengan peternakan terpadu masih tradisional, perlu penangan secara seksama, Ternak kambing disemua Desa di Kecamatan Wera



5.      Ayam
Beternak ayam di Kecamatan Wera sudah menjadi tradisi yang cukup vaforit bagi masyarakat, karena sebagian besar masyarakat Wera memiliki ayam walaupun tidak banyak, beternak ayam sangatlah mudah dan cepat berkembang, cukup dilepas dialam bebas, potensi ini belum dilakukan dengan peternakan terpadu masih tradisional, perlu perhatian bersama untuk beternak ayam yang baik.



III.    Pariwisata
1.      Gunung Sangiang
A.  Letak dan Luas Kawasan
Secara astronomis Cagar Alam Pulau Sangiang terletak pada 110°50’ BT - 119°10’ BT dan 70°30’ LS. Menurut administrasi pemerintahan terletak di Kecamatan Wera, Kabupaten Dati II Bima, Propinsi Nusa Tenggara Barat.
Berdasarkan Berita Acara Tata Batas dari Kantor Sub BIPHUT luas Cagar Alam Pulau Sangiang 7.492,2 Ha.
-      Topografi
Topografi Cagar Alam Pulau Sangiang bergelombang, berbukit hingga bergunung dengan puncak bukit tertinggi adalah Gunung Sangiang 1.949 m dpl. Ketinggian kawasan Cagar Alam Pulau Sangiang berkisar 50 – 1949 m/dpl.
-      I k l i m
Menurut Schmidt dan Ferguson, kawasan Cagar Alam Pulau Sangiang termasuk kedalam tipe iklim E dengan curah hujan 757 mm/tahun dan jumlah hari hujan 82 hari.
Suhu maksimum pada siang hari berkisar antara 26 - 34° C dan terendah pada malam hari 20 - 24° C.
B.  Potensi
-  Tumbuhan
Cagar Alam Pulau Sangiang merupakan perwakilan tipe ekosistem pegunungan yang didominasi oleh sebagian pohon Kesambi dan Bidara. Padang Savana membentang luas pada daerah bagian selatan yang ditumbuhi oleh alang-alang dan rumput (Pashllum).
-      Satwa
Berbagai jenis burung dapat ditemukan di Cagar Alam Pulau Sangiang meliputi antara lain : Koakkiau (Phylemon buceroides), Raja Udang (Halcyon cloris), Elang Bondol (Heliastus indus), Srigunting (Dicrurus sp) dan Ayam Hutan (Gallus varius). Jenis Mamalia meliputi antara lain Rusa (Cervus timorensis), Babi Hutan (Sus sp), Kambing Liar (Nemorrhaedus) dan Rase (Fellis marmoratus). Jenis Sapi Liar juga cukup banyak terdapat di kawasan Cagar Alam Pulau Sangiang ini mencapai 200 ekor.
Pada saat senja hari biasanya sapi-sapi liar ini turun minum dekat mata air dipinggir pantai menggerombol membentuk kelompok-kelompok, tiap kelompok ada 20 ekor.
C.  Keunikan Alam
-  Gua wera
Gua Wera ini adalah satu-satunya gua yang berada di dasar laut yang mempunyai terowongan yang menghubungkan Cagar Alam Pulau Sangiang dengan Desa Wera.
-      Cagar Budaya
Beberapa peninggalan sejarah dan makam terdapat di Cagar Alam Pulau Sangiang. Benda-benda kuno yang pernah ditemukan Tim Kepurbakalaan Bima seperti Gong, Kendi, Wajan dll.
Tiga buah makam yang dikeramatkan oleh penduduk yaitu :
Makam Syeh Jamsuri, terletak disebelah barat OI Kalo
Makam Syeh Syamsudin di Puncak Gunung Doro Ondo.
Makam Nenek Moyang di lokasi bekas perkampungan yang ditinggalkan di Cagar Alam Pulau Sangiang. (www.dephut.go.id)


2.      Pulau Ular
pulau ular payi
Orang Wera menyebutnya NISA, pulau ular demikian Orang Bima menyebutnya, karena mungkin pulau ini hanya dihuni oleh sekelompok ular-ular jinak yang tidak mengganggu penduduk. Yang menarik sebenarnya bukan karena banyaknya ular atau tidak adanya manusia yang mau tinggal di pulau yang kirakira seluas 500 m2 ini, tetapi lebih karena ular-ular ini berbeda dengan umumnya ular yang ada di daerah Bima.Karena ular-ular ini mencari makanan di dalam laut dan beristirahat di atas pulau di antara celahcelah bebatuan, atau bergelantungan pada tebing-tebing terjal, maka menambah daya tarik pulau ini. Ular-ular tersebut sungguh mempesona dengan kilauan warna hitam putih cerah. Melihat pemandangan seperti ini, adalah momen yang sangat disukai oleh wisatawan domestik, terutama anak-anak. Mereka tanpa ketakutan mengalungkan ular-ular besar ini di lehernya. Yang tidak kalah anehnya, bentuk ekor ular ini sudah pipih menyerupai ekor ikan. Para nelayan yang mejaring ikan di sekitar tempat itu sering menemukannya masuk dalam jaring. Tetapi dengan segera mereka melepaskannya. Mereka punya mitos khusus terhadap ular ini. Ular ini tidak bisa dibawa kemana-mana. Kalau ada yang membawanya keluar dari daerah itu, ular tersebut akan segera kembalike komunitasnya lagi. Kalau tidak bisa kembali, dipercayai akan mendatangkan bencana bagi masyarakat Desa Pai, makanya masyarakat desa sangat menjaga kelestarian satwa itu. Tidak ada satupun orang yang bisa membawa ular itu meski hanya satu ekor biar yang paling kecil sekalipun. (Kasku, 2010)



3.      Karombo wera (goa)
karombo
Secara administatif gua ini terletak di Desa Sangiang Kecamatan Wera Kabupaten Bima. Gua ini termasuk gua fosil yang memiliki lorong horizontal, gua ini dulu menjadi favorit masyarakat wera untuk dikunjungi, dulu alat transportasinya menggunakan kuda atau jalan kaki karena belum adanya jalan yang menuju kelokasi tersebut, sekarang dengan menggunakan mobil, motor bisa sampai ke lokasi karombo, setelah idul fitri merupakan waktu favorit dalam mengunjungi karombo. Dulu ada cerita yang berkembang dimasyarakat Wera bahwa orang yang sering berbuat jahat, ngomong kotor dan lainnya akan dijepit/apit oleh Karombo Wera apabila dia masuk kedalamnya, orang-orang jahat tidak mau masuk ke Karombo karena takut diapit/jepit.
Karombo Wera menyimpan berbagai misteri peradaban kehidupan manusia zaman dulu, dulu kala. Bahkan kehidupan masa lalu, tergambar jelas di dalam dinding gua yang dihiasi berbagai relief lukisan tangan peninggalan purbakala.Tapi sayang Goresan-goresan itu sudah G orisinil lagi, karena kurang terawat dan  jaga dan bahkan dirusak tangan-tangan jahil.  Daya tarik lain di dalam gua, terdapat beberapa terowongan alami panjang, bahkan didalamnya terdapat stalaktif bahkan tetesan air dari atap gua, yang menetes setiap detik sehingga menimbulkan bunyi dentingan air yang memukau. Warna langit-langit gua  juga khas,  agak kehitam-hitaman bekas mirip bekas perapian manusia purba, sementara dinding Gua berbentuk seperti 2 buah menara masjid, sedangkan didepannya seperti terdapat mimbar khatib....

4.      Oi Nca Ntoke,,,, Oi Nca biasa disebut masyarakat Wera, Oi Nca berada di Desa Ntoke diujung selatan Kecamatan Wera, memiliki pemandangan air terjun ini sangat teduh, sejuk, indah dan menawan. Airnya yang jernih, mengalir begitu derasnya. Di balik air terjun itu, ada dua buah goa yang tidak terlalu besar tetapi lumayan besar.keberadaan goa itu pun sampai sekarang menjadi sebuah misteri karena kurangnya  informasi.Namun kondisi saat ini, panorama alam yang menawan dipadu dengan derasnya kucuran air sungai yang turun bebas dari ketinggian kurang lebih 30 meter, hanya menjadi sebuah tempat wisata desa yang dikarnakan kurang dan bahkan hampir tidak adanya promosi dan publikasi, membuat destinasi WERA terpinggirkan dan bahkan terlupakan.

5.      Oi Caba (air tawar)
Oi Caba biasa disebut oleh anak muda Wera, Oi Caba berada di Kalo Desa Payi berdekatan dengan pulau Ular, tempat ini biasa ramai dikunjingi oleh anak muda ketika liburan tiba, lebaran, liburan sekolah  tiba merupakan waktu yang ditunggu-tunggu untuk mengunjungi tempat ini, keunikan Oi Caba adalah munculnya air tawar yang cukup banyak dari tebing-tebing disekitar bibir pantai, air-air ini akan kelihatan apabila air laut sedang surut, ketika pasang air ini akan hilang ditutupi air laut




6.      Pantai Pasir Putih
Pantai pasir putih ini berada disebelah timur Kecamatan Wera didesa Payi perbatasan dengan Kecamatan Sape, pantainya sangat indah, hamparan pasir putihnya cukup panjang sehingga bagus untuk berekreasi keluarga






IV.    Kerajinan Masyarakat
1.      Kadodo Wera (dodol Wera)
Pembuatan Dodol atau yang dalam bahasa Bima disebut Kadodo telah menjadi keahlian secara turun temurun oleh masyarakat Bima, terutama  masyarakat di kecamatan Wera. Meskipun pembuatan Dodol semacam ini juga banyak dibuat oleh masyarkat di wilayah lainnya, tapi dodol yang terkenal adalah Kadodo Wera.
Ada satu desa di kecamatan Wera yang orang-orangnya sangat ahli membuat Kadodo yaitu di Desa Nunggi. Hingga saat ini ketrampilan membuat Kadodo Wera masih tetap terwarisi, bahkan menyebar ke desa-desa lainnya di Wera. Pada masa lalu, pembuatan Kadodo hanya dilakukan pada saat ada hajatan seperti perkawinan, khatam Al-qur’an, khitanan dan lain-lain. Pembuatan Kadodo dilakukan secara gotong royong oleh warga diiringi musik tradisional Bima seperti Biola dan Gambo, Rawa Mbojo serta atraksi Gantaong. Sambil menonton dan menikmati musik dan permainan itu, para pembuat Kadodo memaruk kelapa, mengumpulkan kayu bakar, menggali Rubu (semacam tungku perapian yang digali terlebih dahulu untuk dimasukan kayu-kayu bakar). Sambil berpantun dan bersyair para pembuat Kadodo mengaduk Kadodo dengan Kayu Kosambi sepanjang satu meter yang memang telah disiapkan sebagai pengaduk Kadodo. Pembuat Kadodo asal desa Nunggi bahan pembuatan Kadodo Wera untuk sebuah perayaan dibutuhkan 10 kg tepung beras ketan, 50 batang gula merah, 30 butir kelapa, gula pasir, garam, dan bawang Goreng. Untuk membuat dodol yang bermutu tinggi cukup sulit karena proses pembuatannya yang lama dan membutuhkan keahlian. Dalam tahap pembuatannya, bahan-bahan dicampur bersama dalam Kuali yang besar dan dimasak dengan api sedang. Dodol yang dimasak tidak boleh dibiarkan tanpa pengawasan, karena jika dibiarkan begitu saja, maka dodol tersebut akan hangus pada bagian bawahnya dan akan membentuk kerak.
Oleh sebab itu, dalam proses pembuatannya campuran dodol harus diaduk terus menerus untuk mendapatkan hasil yang baik. Waktu pemasakan dodol kurang lebih membutuhkan waktu 4 jam dan jika kurang dari itu, dodol yang dimasak akan kurang enak untuk dimakan. Setelah 2 jam, pada umumnya campuran dodol tersebut akan berubah warnanya menjadi cokelat pekat. Pada saat itu juga campuran dodol tersebut akan mendidih dan mengeluarkan gelembung-gelembung udara.Untuk selanjutnya, dodol harus diaduk agar gelembung-gelembung udara yang terbentuk tidak meluap keluar dari kuali sampai saat dodol tersebut matang dan siap untuk diangkat. Yang terakhir, dodol tersebut harus didinginkan dalam periuk yang besar. Untuk mendapatkan hasil yang baik dan rasa yang sedap, dodol harus berwarna coklat tua, berkilat dan pekat. Setelah itu, dodol tersebut bisa dipotong dan dimakan. Selama ini pembuatan Kadodo Wera masih bersifat tradisional terutama pada saat hajatan saja. Pemasarannya pun nyaris tidak pernah dilakukan di luar kecamatan Wera. Perlu upaya pendekatan, fasilitasi dan sentuhan pemberdayaan terhadap para pembuat Kadodo Wera agar produk warisan leluhur ini mampu menerobos pasar. Seperti Dodol Garut dan dodol-dodol lainnya di tanah air.(alan)

2.      Tembe nggoli
Tembe Nggoli adalah sarung tenun tangan khas Bima, dibuat dari benang kapas (katun), dengan warna-warni yang cerah dan bermotif khas sarung tenun tangan.
Keistimewaanya Tembe Nggoli antara lain:
* Hangat
* Halus dan lembut
* Tidak mudah kusut
* Warna cemerlang lebih lama
Saat ini, Tembe Nggoli sudah diproduksi dalam berbagai macam corak dan motif. Ada yang 'biasa' (untuk dipakai sehari-hari), dan ada pula yang istimewa yang hanya dipakai pada acara-acara resmi, kawinan, sunatan dll
Bagi orang Bima, memakai sarung lazim dilakukan baik oleh kaum pria maupun wanita. Wanita Bima memakai sarung sebagai 'bawahan', bahkan masih ada yang menggunakan dua buah sarung, yang disebut "rimpu". Rimpu adalah cara wanita Bima menutup aurat bagian atas dengan sarung sehingga hanya kelihatan mata atau wajahnya saja. Rimpu yang hanya kelihatan mata disebut "rimpu mpida".  Dibeberapa desa di Kecamatan Wera juga mampu membuat tembe nggoli dengan kualitas yang bagus dianatarnya Desa Sangiang, Tadewa dll, namun perlu sentuhan dan penangan pemerintah untuk mengembangkan menjadi industry rumahan (www.bimakab.go.id)
Menurut Hasbi. M. Sidik tahun 2011